Butuh perhatian: Nasib Guru Mengaji "Hidup Segan Mati Tak Mau" - INDONISY

Berbagi informasi yang bermanfaat.

Butuh perhatian: Nasib Guru Mengaji "Hidup Segan Mati Tak Mau"

MEDAN : Bagaikan hidup segan mati tak mau, begitulah nasib para guru mengaji. Para guru mengaji ada yang perlahan menghentikan profesinya karena persoalan kesejahteraan. Namun ada juga yang bertahan karena keinginan bathin mengajarkan nilai keislaman.

Sementara itu, penggiat politik (politisi) Islam pergerakannya masih sebatas pada menyelamatkan kepentingan pribadi, bukan meperjuangkan kemaslahatan umat.
Nasib Guru Mengaji

Pengamat Sosial dari Universitas Medan Area (UMA) Arman Matondang, mengatakan itu saat berbicara kepada Waspada, Rabu (4/1). Dia mengomentari tentang kondisi para guru mengaji saat ini. Diberitakan sebelumnya, Sekretaris Komisi B DPRD Medan Muhammad Nasir, mengaku telah mengusulkan penambahan dana untuk sosialisasi dan pembinaan kepada guruguru Maghrib Mengaji pada APBD 2017.

Yang membuat aneh dari pernyataan anggota dewan itu adalah tentang jumlah guru Maghrib Mengaji yang lebih sedikit dibanding dengan jumlah guru Sekolah Minggu. Jumlah guru mengaji hanya 1.100 orang, sementara jumlah guru sekolah minggu 3.000 orang. Artinya, banyak para guru mengaji yang selama ini tidak mendapatkan dana dari pemerintah. Itu terjadi, salah satunya karena ketidakpedulian anggota DPRD Medan yang beragama Islam.

Menanggapi hal ini Arman Matondang, mengatakan selama ini sangat jarang orang yang membicarakan tentang kehidupan guru mengaji. Kegiatan religi sosial yang biasa dilakukan hanya acara seremonial, seperti ceramah ustad kondang yang ongkosnya mahal, dan acara MTQ yang penyelenggaraannya membutuhkan dana yang banyak.

Dia mengatakan, ada saat waktu tertentu isuisu religi menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Bahkan terkadang kegiatankegiatan religi akan menjadi jargon demi sebuah pencitraan. “Seperti gerakan Subuh Mengaji, Tausiah Magrib Bersama, dan Zikir Persaudaraan,” katanya.

Menurut Arman, ini merupakan bukti bahwa kita kerap menciderai Islam hanya demi sebuah kepentingan yang justru memudarkan semangat Islam. “Sebenarnya jika pemerintah mau mendata ulang tentang keberadaan guru ngaji, pasti hasilnya akan sangat banyak. Sebab saat ini banyak guru mengaji yang sukarela membukakan pintu rumahnya sehabis maghrib untuk mengajarkan anakanak dilingkungannya,’’ katanya.

Tapi, menurut Arman, boroboro mau mendata ulang, sedangkan guru mengaji yang terdata saja minim perhatian pemerintah.

Tidak tahu

Di tempat terpisah, seorang guru Maghrib Mengaji yang juga guru mengaji di Madrasah AlHijrah Helvetia Ardiansyah, mengakut tidak tahu adanya bantuan untuk guru Maghrib Mengaji.

Dia meragukan adanya dana bantuan itu. Sebab untuk guru madrasah saja yang siswanya jelas terdata, belajarnya di dalam kelas, bantuan kesejahteraan tidak ada. “Konon lagi guru mengaji magrib yang waktu belajar ngajinya malam hari dan belajarnya hanya di dalam rumah ustad saja,” katanya.

Meskipun begitu, Ardiansyah, mengaku bersyukur dengan adanya kabar tersebut. Itu menandakan bahwa masih ada yang memperhatikan kehidupan para guju mengaji saat ini. Begitupun, dia mengaku tidak terlalu memikirkannya. “Menjadi seorang guru mengaji merupakan sebuah panggilan, dan bukan karena ada honornya,” katanya. (crds/C/)

republish from waspadamedan.com
0 Komentar

* Berkomentar sesuai dengan Artikel.
* Dilarang Sp@m di sini.
* Terima kasih.