Kisah Ruqiah Dumir, mahasiswi asal Turki melanjutkan S2 di Jalur gaza - INDONISY

Berbagi informasi yang bermanfaat.

Kisah Ruqiah Dumir, mahasiswi asal Turki melanjutkan S2 di Jalur gaza

Dari daratan Mesopotamia yang terkenal dengan kesuburan tanahnya, air yang melimpah dari bentangan dua sungai besar Eufrat dan Tigris yang mengapitnya, seorang wanita asal Turki bernama Ruqia Hussen Dumir memberanikan diri datang ke Jalur Gaza untuk melanjutkan studi S2-nya.

Ruqia datang ke Jalur Gaza yang dikenal sebagai “Penjara terbesar” di dunia, di mana rakyatnya hidup dalam blokade total Israel sejak lebih dari 10 tahun lalu.
Ruqia Hussen Dumir

Tidak biasanya, dan sulit diterima secara logis, Ruqia (26) yang notabene seorang wanita kini berada di Universitas Islamiyah Jalur Gaza demi melanjutkan kuliah pasca sarjana jurusan Psikologi Sosial, sementara di sisi lain terdapat banyak pemuda Palestina yang terus mencari celah agar bisa keluar dari wilayah Gaza untuk study dan mencari kerja di luar negeri.

Ruqia berada di Jalur Gaza sejak lima bulan lalu. Kedatangannya di wilayah yang masih dibawah kontrol penuh Israel ini, menimbulkan rasa heran dari penduduk setempat, meski yang lain menilai itu sesuatu yang wajar jika melihat Jalur Gaza dari prespektif yang lain.

Ruqia sebelumnya menyelesaikan jenjang S1 di Malaysia. Saat berada di sana, pikirannya sering terusik dengan sejumlah rencana yang menurut orang lain sulit untuk diwujudkan. Antara lain, niatnya untuk melanjutkan studi di Jalur Gaza Palestina yang dalam pandangan mayoritas orang, sebagai negara yang rawan dan penuh resiko besar.

“Ini adalah cita-cita saya sejak dulu yang terpatri di jiwa, saya terus terobsesi untuk mewujudkannya, dan saya percaya mimpi ini tidak bisa tercapai jika hanya terus berkhayal saja,” kata Ruqia.

Dengan bahasa Arab yang masih sederhana, Ruqia lanjut bercerita, “Setelah proses administrasi berbulan-bulan, maka datanglah kabar yang saya tunggu-tunggu.”

Yang menelepon dirinya berkata, “Ruqia, selamat surat izin untuk memasuki Jalur Gaza untukmu telah keluar.”

Saat itu saya menyambutnya dengan penuh girang. “Rasanya dunia ini terlalu sempit untuk meluapkan kegimbiraanku,”ungkap Ruqia.

Awal berada di Jalur Gaza, Ruqia tinggal dan menempati camp Jabalia yang merupakan kawasan paling padat dan termiskin di dunia. Namun saat ini, ia telah pindah dan tinggal di tengah kota Gaza yang cukup baik dari aspek infrastruktur.

Ruqia berpendapat, meski kehidupan serba sulit seperti ketiadaan listrik, tidak berarti kehidupan menjadi mustahil, atau bahkan tidak lagi indah.

“Di luar tanah Palestina ini, orang hidup dan fokus mementingkan materi, sedangkan yang membuatku takjud di tempat ini, warganya cukup ramah terhadap pendatang,”lanjut Ruqia.

Selain fokus studi, saat ini Ruqia melakukan aktivitas jurnalistik dengan mengadakan wawancara dengan masyaratkan setempat, berbaur, serta berusaha untuk lebih mengenal kondisi di sekitarnya.

Ruqia juga kerap menuju pantai dan berenang di pesisir Gaza. Meski dirinya cukup pandai berenang, namun ia akui ombak Gaza terlalu keras sekuat jiwa para penduduknya yang terus bertahan menghadapi sulitnya kehidupan dibawah blokade Israel.

Penulis : Ibrahim Muqbil (Jurnalis Palestina di Jalur Gaza)
Penerjemah: Ihsan Zainuddin (Traslator @ SPNA- Jalur Gaza)
0 Komentar

* Berkomentar sesuai dengan Artikel.
* Dilarang Sp@m di sini.
* Terima kasih.