Kesedihan Anak-Anak Rohingya Kehilangan Orangtua - INDONISY

Berbagi informasi yang bermanfaat.

Kesedihan Anak-Anak Rohingya Kehilangan Orangtua

Ruang Ramah Anak (CFS) di kamp pengungsi Kutupalong di Cox's Bazar penuh dengan aktivitas. Lebih dari 60 anak sibuk mewarnai, menggambar dan bermain.

Namun Rasyid hanya terdiam. Suaranya yang lemah sering ditenggelamkan oleh suara rebana yang dimainkan anak-anak dengan antusias.

Rashid yang baru berusia 10 tahun harus memikul tanggung jawab yang berat karena kematian orang tuanya. Rashid harus merawat adik perempuannya yang berusia enam tahun, Rashida.

Rashid dan Rashida termasuk di antara sekitar 1.400 anak-anak Rohingya yang tiba di Bangladesh tanpa orang tua mereka. Orang tua mereka terbunuh atau hilang setelah tindakan militer brutal di negara bagian Rakhine bagian barat.
Anak Rohingya
ilustrasi
Rashid masih bersedih atas kematian ayah dan ibunya. Menurutnya, kedua orang tuanya dibunuh oleh militer Myanmar. Saat masih di Maungdaw, Rashid tinggal bersama orang tuanya dan enam saudara kandung.

"Saat itu saya meraih tangan kakak perempuan saya dan berlari menuju bukit terdekat. Setelah tentara pergi, saya kembali menemukan orang tua saya meninggal," katanya.

Akhirnya Rashid kembali ke bukit dan melakukan perjalanan menuju Bangladesh bersama tetangganya. "Saya berjalan selama tiga malam untuk mencapai perbatasan Bangladesh. Saya menyeberangi sungai Naf untuk memasuki Bangladesh sehari sebelum Idul Fitri," katanya.

Rashid tidak tahu tentang keberadaan saudara kandungnya yang lain. Namun, banyak orang yang mengatakan bahwa semua saudara laki-laki dan perempuannya telah terbunuh. Sekarang Rashid dan adiknya tinggal bersama tetangganya.

Faria Selim, spesialis komunikasi di UNICEF Bangladesh mengatakan, Rashid selalu datang setiap beberapa menit dan mengatakan orang tuanya telah meninggal. "Dia sedikit mereda dalam beberapa hari terakhir setelah dia datang ke sini," katanya.

Rashid telah keluar dari sekolahnya di Myanmar, tapi dia menyukai CFS, yang buka enam hari dalam sepekan. "Di sini tidak ada kesempatan untuk diserang, tidak ada yang mengawasi kita Semua orang bebas melakukan apapun," kata Rashid. Rashid ingin menjadi guru sehingga nantinya bisa mengajar anak-anak Rohingya lainnya

Kisah lainnya datang dari Dilara Begum (11) dan Ajija Begum (9). Mereka juga telah kehilangan orang tua. Dilara masih shock atas kejadian tersebut dan nyaris tidak berbicara.

"Tepat sebelum makan siang, ibu saya Hamida Begum meminta saya untuk bermain di tempat rumah kami sehingga ayah saya bisa bersiap untuk bekerja," kata Ajija.

Saat Ajija sedang bermain dengan saudara perempuannya Dilara dan Mushtakim dia mendengar suara tembakan. Mereka akhirnya berlari ke semak-semak dekat rumah mereka di desa Bargojibil di Maungdaw. Bersembunyi di balik semak, Ajija melihat militer menembaki orang tuanya.

Ajija tidak kembali dan dalam kekacauan, dia kehilangan saudara perempuannya. "Di daerah bukit, tetangga saya menawari saya tumpangan setelah mendengar orang tua saya terbunuh," katanya.

Dia bertemu dengan saudara perempuannya di kamp di Kutupalong. Mushtakim, yang secara mental masih mengalami kesedihan mendalam, sekarang pulih dari luka cedera peluru. Delapan dari saudara kandungnya juga terbunuh dalam serangan tersebut.

Kembali ke Myanmar, Ajija sering menghindari pergi ke sekolah saat tentara secara teratur berkunjung ke sana. Dilara tidak pernah bersekolah.

"Saya senang berada di Bangladesh karena tidak ada rasa takut terbunuh, saya telah membuat banyak teman di sini, saya memiliki waktu yang lebih baik," kata Ajija.

Dilara, yang hampir tidak berbicara selama percakapan tersebut, mengatakan bahwa Mushtakim menginap di pondok kumuh.

Pusat CFS, yang didukung oleh UNICEF bekerja sama dengan lembaga bantuan lokal, telah menjadi tempat perlindungan bagi anak-anak yang mengalami trauma, dan banyak di antara mereka berusia muda.

Ada 42 CFS di Ukhia dan Teknaf, tempat menampung hampir 429 ribu pengungsi Rohingya, yang telah tiba sejak 25 Agustus.

Shapolu Barua, petugas penjangkauan di CFS Kutupalong, mengatakan sebagian besar anak-anak di kamp pengungsian telah mengalami trauma.

"Misalnya, Rashid menjalani sesi konseling yang sangat panjang. Dia menggigil pada hari pertama dan terus mengatakan mereka membunuh orang tua saya,'" kata Shapolu, yang bekerja untuk CODEC, sebuah LSM yang melaksanakan proyek UNICEF.

Anak-anak, katanya, telah dikategorikan menjadi dua kelompok utama. Kelompok satu antara empat dan 11 tahun dan yang lain berusia antara 12 sampai 18 tahun.

"Bagian junior adalah yang paling rentan. Staf di pusat tersebut berusaha membuat ikatan dengan anak-anak dan menasihati mereka untuk menumpahkan rasa takut kepada militer Myanmar," katanya.

Ia menjelaskan, untuk kelompok usia 12-18, tim memiliki pusat remaja, di mana mereka belajar pelajaran tentang kesehatan reproduksi dan program pendidikan lainnya.

CFS di Kutupalong adalah ruang tertutup yang terbuat dari batang bambu dan jerami dan saat ini menampung 562 anak. 70 persennya datang setelah 25 Agustus.

"Kami fokus pada dukungan psikososial dan rekreasi, kecakapan hidup berdasarkan isu pendidikan, perlindungan dan keselamatan serta kesehatan dan kebersihan," kata Selim dari UNICEF.

Menurut Selim tim juga menyediakan barang-barang rekreasi berupa mainan belajar, bolpen dan pensil, pensil warna dan juga bahan olah raga. Ia menjelaskan, banyak anak-anak benar-benar mati rasa dan trauma.

"Beberapa dari mereka tidak benar-benar ingin berbicara Kami tidak memaksa mereka dan malah memberi mereka ruang untuk menetap dan membuka secara bertahap, melihat semua anak ini bersenang-senang," katanya kepada Al Jazeera.

artikel: http://internasional.republika.co.id/berita/internasional/global/17/09/24/ows93y396-kesedihan-anakanak-rohingya-kehilangan-orangtua
0 Komentar

* Berkomentar sesuai dengan Artikel.
* Dilarang Sp@m di sini.
* Terima kasih.